Posted by: enixcute | December 20, 2010

Alasan Kenapa Anak Membangkang

Pembangkangan adalah suatu PENOLAKAN yang dilakukan anak terhadap orang yang memerintah, memanggil atau
orang yang memerintah, memanggil atau orang yang tidak disukainya. Positif nya adalah ”Pembangkangan
merupakan proses alamiah yang harus dialami anak” dan sisi Negatifnya adalah Pembangkangan yang
mengarah ke TINDAKAN KASAR
PROSES PEMBANGKANGAN KONDISI BETA, Rasa tidak nyaman, tidak aman, tidak sesuai dalam diri
anak.PENOLAKAN, sebagai solusi dari intervensi KONDISI BETAPERTAHANAN, anak melakukan pertahanan
dengan MEMBANGKANGPEMBANGKANGAN, akan terus berlanjut jika tidak ada solusi akan berakibat
negatif.AKIBAT NEGATIF, menjadi anak yang tidak berdaya, tidak percaya diri, selalu ikut-ikutan, tidak mempunyai
keinginan, sulit memahami maksud oranglain SEBAB-SEBAB PENOLAKAN Adanya perintah yang tidak
menyenangkan anak. Terjadi kejenuhan perintah atau sapaan seperti kata “belajar”,
“makan”, “mandi atau “tidur”, yang diucapkan dengan intimidasi, paksaan dan
tekananAdanya perintah yang tidak dimengerti anak seusianya. Menyebabkan anak diam, beralih pandangAnak
sedang asyik, serius dan fokus dalam aktivitasnya yang menyenangkan. Seperti menonton TV atau mainannya,
maka ia cenderung tidak memperhatikan lingkungannyaAnak merasa tidak puas atau ada sesuatu kebutuhan
terhadap orangtua yang belum terselesaikan. Misalnya anak yang meminta sesuatu tetapi orangtua tidak ada
reaksi, tidak mengiyakan atau menolaknya.Anak yang mencontoh apa yang dilakukan orang yang sedang
dibangkang. Apabila anak memanggil orangtuanya tetapi yang dipanggil diam saja, suatu ketika anak akan
mencontoh gaya orangtuanya yang cuek.Adanya ketidaksukaan terhadap orang yang memerintah, karena ada
sesuatu yang tidak sukai, baik perilaku, sikap dan perkataannya.Ingin mendapat perhatian dari orang yang
memerintahnya, seperti ingin dipeluk, disapa, dipuji. 1. MEMBANGKANG KARENA KEASYIKAN • Kasus:
– memerintah anak untuk melakukan sesuatu, misalnya mandi, belajar, dan lain-lain, sedangkan anak ASYIK
sedang menonton TV • Akhir kasus: – Terjadi pertengkaran mulut antara orang tua dan anak sampai ke
pemukulan. – Anak merasa terkalahkan untuk menuruti perintah orangtuanya setelah terjadi pertengkaran. Anak
tidak puas, secara otomatis akan terjadi proses pengulangan pembangkangan pada kasus lain. – Orangtua
merasa puas dengan tindakannya, padahal tidak sadar akan memunculkan masalah baru yang mungkin lebih besar.
• Mengapa pembangkangan terjadi: – Anak mendengar perintah orangtua, namun dia sedang FOKUS
dengan keasyikannya, seperti menonton TV. Keasyikan ini membuat anak tidak menghiraukan lingkungannya. Rumus
baru: PERINTAH kepada anak akan tertolak jika anak tersebut sedang FOKUS terhadap sesuatu. – Ada
kebutuhan anak sebelumnya yang tidak terselesaikan oleh orangtuanya. Contoh anak pernah memanggil orangtuanya,
namun orangtuanya tidak mendengar, mengatakan nanti dulu, dan lain-lain. – Orangtua FOKUS terhadap
lingkungan yang lain. Seperti kehadiran seorang adik, atau keluarga lainnya. Bagaimana solusinya ORANGTUA
MASUK DALAM DUNIA ANAK, dengan cara: • Membuka pintu emosi anak dengan SENTUHAN EMOSI POSITIF
(sensor motorik), misalnya dengan mendekati, memeluk, mengelus-elus kepala anak kita, mencium anak kita. •
Ikut melibatkan diri dalam aktivitas KEASYIKAN anak, dengan bertanya tentang acara/film yang ditonton anak kita.
– ”Siapa yang baik?”, – ”Lho sembunyi dimana musuhnya tadi?” •
Melibatkan diri dalam KEASYIKAN ANAK merupakan pendekatan simpati pada apa yang difokuskan. Anak akan merasa
nyaman, rileks dengan kehadiran kita. Dan akhirnya anak akan menerima kehadiran kita. • Keberhasilan MASUK
DALAM DUNIA ANAK apabila anak sudah menerima KEHADIRAN KITA. MEMBAWA ANAK MASUK DALAM
DUNIA ORANGTUA, dengan cara: Ø Membicarakan langsung apa yang orangtua inginkan dengan sebuah alasan yang
dapat dipahami anak mengapa dia harus melakukan itu. Alasan akan lebih disukai anak apabila dikaitkan dengan
aktivitas anak anda, tentunya sesuai dengan perkembangan usia. Contoh: – Waktu anak anda sedang menonton
film kartun, maka katakanlah: ”Ayo jagoanmu akan lebih suka kalau kamu mandi dulu.” Ø Memberi
suasana yang menyenangkan pada saat anak melakukan keinginan kita. Hal ini penting sebab untuk menjaga anak
TIDAK KELUAR DARI DUNIA ORANGTUA. Contoh: – Waktu anak kita mau melakukan mandi, maka iringi
dengan pujian-pujian yang menyejukkan. ”Aduh pinter anak mama. Mama akan bilang ke ayah (semua orang)
kalau anak mama ini pinter” Ø Usahakan untuk tidak menggunakan refleks, spontan, pemaksaan kehendak dan
tuntutan, sewaktu melihat anak melakukan yang tidak kita sukai. Sebab hal tersebut akan menimbulkan traumatik yang
membekas sampai dewasa. Ø Orangtua harus bersabar menunggu JEDA WAKTU KEASYIKAN anak kita. Artinya
perintah kita akan lebih baik disampaikan pada saat jeda waktu anak kita keluar dari suasana KEASYIKANNYA. Contoh:
Rasulullah SAW menyelesaikan sujudnya, kita cucu-cucu beliau turun sudah turun dari punggungnya. Ø Hindari kata-kata
rutinitas seperti menyuruh mandi, makan, belajar, sholat atau yang membuat anak tidak nyaman apabila mendapat
rangsangan panggilan tersebut. Orangtua harus kreatif menyatakan perintah dengan bahasa yan tidak sama atau
menggunakan perintah yang mengandung emosi dan keselamatan hidup. Contoh: – ”Ayo sudah
waktunya kita bermain air terjun di kamar mandi.” – ”Mama tidak mau kulitmu bau, terus tumbuh
ulat-ulat kecil yang tidak nampak oleh mata, sebab itu ayo kita sama-sama mengusir ulat-ulat itu dengan air yang
sejuk.” – ”Tuh lihat gambar POWER RANGERS jagoanmu, dengarkan dia bicara, katanya kamu
harus belajar sekarang supaya bida jadi seperti dia” – ”Lihat kasihan ya … pengemis itu. Pasti
waktu sekolah dulu dia jarang belajar, hingga dia menjadi seperti yang sekarang. Anakku, mama tidak mau kamu jadi
Alfalah Alkhairiyah
http://alfalah-alkhairiyah.com/id Menggunakan Joomla! Generated: 20 December, 2010, 00:40
seperti itu. Sebab itu ayo kita belajar yok.” – ”Allah membuka pintu surganya, kita dipanggil Allah
untuk memasukinya dengan sholat. Ayo sama-sama kita memenuhi panggilannya.” – ”Kata Allah
dengan sholat, kita akan selalu dijaga dari bencana dan duka. Yok sholat yok.”
2. MEMBANGKANG KARENA KEJENUHAN • Kasus: – Orangtua yang terbiasa memerintah anaknya atau
melarang anaknya dalam bentuk PERINGATAN saja, dan setelah itu tidak ada kelanjutannya. Contoh: – Anak
yang sedang asyik bermain dengan temannya di halaman rumah, tiba-tiba mama/ayahnya datang dan biasa
mengatakan: ”Ayo nak , masuk ke rumah”. – Anak yang sedang melakukan aktivitas yang menurut
anak tersebut menantang dan menyenangkan, namun orangtuanya selalu memberi PERINGATAN saja. Contoh: •
”Ayo jangan naik nanti jatuh”. • ”Nanti mama pukul lho”. • ”Jangan
melotot!, jangan menangis!. Jangan pegang itu ..”
• Mengapa pembangkangan terjadi: – Kebiasaan orangtua yang sering memberi Peringatan yang tidak
pernah selesai dan tidak jelas, akan menimbulkan KEKEBALAN PERINGATAN. Hal ini menyebabkan anak tidak akan
pernah menuruti perintah orangtua sebab mengalami KEJENUHAN EMOSI. – Kebiasan orangtua yang sering
melarang anaknya dengan mengatakan JANGAN INI/ITU, TIDAK BOLEH INI/ITU akan berdampak anak merasa dirinya
terpenjara dan akan berakibat anak akan melabelkan dirinya TIDAK MAMPU. Kepercayaan dirinya akan drastis
menurun. Akhirnya pada saat ada perintah dari orangtua, si anak merasa tidak akan mampu melakukannya. Akibatnya
dia akan membangkang dengan berdiam diri. Tidak melakukan apa yang diperintahkan orangtuanya. •
Bagaimana solusinya: – Orangtua harus menghindari peringatan yang tidak pernah selesai. Lebih baik
peringatan diubah dengan pujian. – Orangtua harus menghindari memberi label kepada anaknya dengan
LABEL KELEMAHAN atau KETIDAKMAMPUAN. Orangtua harus mencari KEMAMPUAN anaknya. – Orangtua
harus memberi kesempatan anak untuk bebas beraktivitas dengan kegiatan yang disukainya. Orangtua lebih baik
banyak bertanya kepada anaknya mengapa anaknya suka melakukan aktivitas itu, daripada cenderung melarangnya.
3. MEMBANGKANG KARENA BEBAN • Mengapa pembangkangan terjadi: – Pembangkangan akan terjadi
karena ada faktor kelelahan kognitif. Otak melakukan ”down shifting” . Sehingga pada saat ada perintah
dari orangtua akan diterjemahkan menjadi tekanan dan anak akan berusaha menolak perintah itu dengan berbagai cara.
Baik dengan menghindar atau mengatakan ”TIDAK TAHU” / ”TIDAK BISA” –
Kelelahan kognitif ini dapat disebabkan karena beberapa faktor, antara lain PR yang terlalu banyak, keingingan orangtua
menajdi anaknya ”pinter” atau ”rangking 1” dengan mengikutkan anak les bermacammacam.
– Kelelahan muncul karena anak tidak diberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas yang muncul
dari dalam dirinya, sehingga tidak ada kesempatan untuk mengembangkan potensi diri, bisa jadi ia tidak bisa
memperoleh pengalaman untuk mejadi pelajaran dalam dirinya. • Bagaimana solusinya: – Mulai
membebaskannya dari aktivitas rutin yang membelenggu anak. – Memberi kesempatan anak melakukan aktivitas
yang diinginkan dan disukai untuk dapat mengembangkan potensinya

Sebagai orang tua, kadang kita menghadapi anak-anak yang dalam ukuran normal disebut “membangkang”, Pendidikan Disiplin dan sopan santun harus diajarkan sejak usia dini. Bagi orang tua , terkadang hal ini menimbulkan dilema, disatu sisi sebagai orang tua, kita dihadapkan pada rasa sayang, sehingga ingin memenuhi setiap kinginan dan kemauan anak. Disisi yang lain, apabila sikap terlalu sayang ini kita terapkan akan berakibat munculnya sikap manja, dan ingin selalu dituruti apa maunya anak.
Bagaimana caranya orang tua bersikap? Dibawah ini kita paparkan tips-tip agar sukses dalam mendidik anak yang mempunyai ketaatan dan kedisiplinan sekaligus punya sopan santun (akhlak )yang baik. 

Apa penyebab sikap kasar pada anak?

Menurut Audrey Ricker (pakar Pendidikan) dan Carolyn Crowder(Pakar Psikolog Anak), sikap kasar seorang anak disebabkan oleh :
1. Sikap alamiah anak untuk mencari “cara” agar dianggap atau menunjukan dirinya berarti.
2. Sikap orang tua yang berbicara kasar kepada suami / istri didepan sang anak.
3. Media masa (televisi, video, film, musik)

Langkah-langkah efektif untuk mengatasi sikap kasar anak.:

1. Mengenali Kekasaran

Mengenali kekasaran sebagai langkah pertama sangat penting. Hal ini bisa kita buktikan melalui ucapan dan tingkah laku anak seperti pernyataan atau perilaku anak yang melukai orang tua, mempermalukan orang tua, mengganggu atau membuat orang tua tak berdaya, hal ini adalah ciri-ciri sikap kasar.

2. Memilih konsekuensi yang tepat untuk perilaku tersebut

Langkah kedua, sebagai konsekuensi dari sikap kasar anak kepada orang tua, maka sudah sewajarnya bila orang tua memberi sikap untuk tidak memenuhi apapun keinginan anak, sebagai contoh, bila anak ingin pergi ke rumah temannya, maka jangan diberi izin. Hal ini untuk menunjukkan kepada anak bahwa setiap tindakan/ ucapan yang tidak baik mengandung konsekuensi hukuman/pelarangan

3. Memberlakukan konsekuensinya

Orang tua harus menjelaskan kepada anak atas pelarangan/hukuman yang diterapkan. Penjelasan ini diperlukan agar sang anak mengerti bahwa tindakan atau sikap yang dilakukan telah mengganggu perasaan orang tua. Dan sikap tersebut adalah sikap yang tidak diperkenankan.

4. Melepaskan diri dari pergumulan dengan sang anak

Langkah keempat adalah mengabaikan perilaku kasar tersebut, dan orang tua memberikan sikap tegas kepada anak, dan memisahkan anak dengan teman-temannya agar anak dapat memperbaiki sikapnya. Hal ini juga dapat membebaskan orang tua dari perjuangan keras si anak untuk mengubah pikiran orang tua.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: